2.500 Bhayangkari Manortor Bersama

Lengkap dengan kebaya, ulos, dan sortali, lebih dari 2.000 ibu Bhayangkari, polisi , wanita, dan PNS dari seluruh jajaran polisi se-Sumatera Utara berkumpul menarikan tarian adat asal Batak, Tortor. Tarian adat ini dipilih karena merupakan akar budaya asli Sumut dan sempat menjadi rebutan oleh negeri jiran Malaysia.

TORTOR: Para Ibu dari Bhayangkari  berdandan cantik  semangat  gembira  membawakan tarian adat Batak Tortor  Lapangan Merdeka, Sabtu (22/9). //Triadi wibowo/sumut POS

TORTOR: Para Ibu dari Bhayangkari yang berdandan cantik dengan semangat dan gembira membawakan tarian adat Batak Tortor di Lapangan Merdeka, Sabtu (22/9). //Triadi wibowo/sumut POS


Manortor massal ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-60. Bertempat di Lapangan Merdeka Medan (22/9) kemarin, para ibu itu mayoritas memakai kebaya berwarna merah. Selama 5 menit, para ibu menari dengan ceria terlihat dari tawa dari para istri aparat keamanan ini “Hampir 2.500 para istri polisi (ditambah polwan dan PNS) ini berkumpul. Kita ingin menanamkan budaya. Karena itu, kita pilih kaum ibu yang merupakan pendidik awal untuk anak dalam keluarga,” ujar istri Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Sumut, Mutyara Sitepu.

Awalnya kegiatan manortor bersama akan dicatatkan dalam Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia). Karena keterbatasan waktu, pencatatan rekor yang membanggakan tersebut ditunda . “Ide ini muncul seminggu yang lalu. Jadi para ibu ini hanya memiliki waktu 4 kali berkumpul untuk latihan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Para ibu optimis dapat meraih rekor tersebut. “Kalau Anda perhatikan, semua yang bekerja dalam acara Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-60 ini adalah para wanita. Mulai yang merekam acara, MC, hingga panitia semuanya adalah wanita. Mungkin hanya yang membuat pentas ini yang membutuhkan bantuan dari kaum adam ya,” lanjut Mutiara Sitepu.

Kesuksesan acara ini membuat Mutiara akan mempertahankan acara ini dengan tema yang berbeda-beda. “Kita maunya acara ini terus berlangsung ya. Misalnya, tarian dari Karo asal saya, atau dari Tapanuli Selatan, Melayu, dan lainnya,” tambah Mutiara.

Tujuannya, lebih mengenalkan budaya sendiri untuk menjadi filter masuknya budaya asing. “Lihat saja, tarian Gangnam Style misalnya, tarian asal Korea itu terus diikuti. Padahal, tarian budaya sendiri hampir terlupakan,” ungkapnya.

Walau menari tarian adat yang bukan asalnya, ibu Bhayangkari ini tetap semangat. Seperti yang diungkapkan Suryani, istri polisi asal Tebingtinggi ber darah Jawa ini bangga dapat mempelajari budaya orang lain. Malah, acara ini dianggapnya sebagai ajang silaturrahmi dengan ibu Bhayangkari dari daerah lain. “Selama ini kita sangat jarang, bahkan bisa dikatakan tidak pernah ketemu dengan ibu Bhayangkari asal Sibolga, Nias, dan daerah lainnya. Nah, sekarang kita ketemu. Bisa kenalan, dan lainnya,” ungkap ibu dari 2 anak ini.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda Sumut, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro juga terlihat ikut menari Tortor. Tak hanya itu, Kapolres-kapolresta di jajaran Polda Sumut juga terlihat ikut menari dan hadir dalam acara tersebut beserta perwira yang ada dijajaran Polda Sumut sekitarnya.

Kapolda mengatakan, tidak hanya suku Batak tapi seluruh lapisan masyarakat layak turut serta melestarikan budaya, adat istiadat suku bangsa. “Tujuannya menjaga dan melestarikan budaya,” sebut Wisjnu.

Selesai manortor bersama, para ibu yang dalam acara formal akan menggenakan seragam Dharma Wanita berwarna pink ini dihibur oleh pengisi acara. Berbagai lagu daerah asal Sumut yang berirama ceria seperti Anak Medan, Jamilah, Biring-Biring, dan lainnya pun menggetar di Lapangan Merdeka hingga para ibu bhayangkari berjoget bersama.

Apalagi, saat sang Kapolda, Wisjnu menghampiri dan bergoyet bersama, para ibu ini bertambah semangat.

Suasana semakin meriah, saat secara bergantian perwakilan polisi dari Kabupaten/Kota naik panggung untuk menyanyikan berbagai lagu asal daerahnya.

Setelah itu, acara pun dilanjutkan dengan pemberian Tali Asih kepada perwakilan polisi. Berbagai hadiah menarik yang merupakan pemberian dari ibu pembina Bhayangkari.

Acara belum selesai, perwakilan Polwan dari Polresta Medan pun unjuk kebolehan. Tampil dengan kebaya warna hijau, kain adat, dan Tudung Karo, 8 wanita cantik tampil dari biasanya yang menggunakan seragam polisi. Dengan lentur, mereka menari diiringi lagu Si Kacang Koro asal Karo. Filosopi tari dan lagu ini, diharapkan para istri polisi dapat menyambut sang suami yang baru pulang bertugas dengan senyum manis. Sehingga, rasa lelah si suami bisa hilang, setelah seharian bekerja. (ram/jon)
2 Ribu Bhayangkari
Manortor Bersama

Tagged:

Berita terkait: